CH (274): Permohonan Seorang Broto Semedi

Broto Semedi

Suatu hari dalam masa pengabdiannya di sebuah lembaga Kristen bernama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Pdt. Em. Broto Semedi Wirjotenojo, S.Th., menghadap Sang Magnificus Rektor UKSW O. Notohamidjojo, S.H., dan mengajukan sebuah permohonan. Apakah itu, sehingga menarik untuk saya tuliskan dalam catatan harian saya? Berikut kisahnya.

Akhirnya, Sang Notohamidjojo mengambil sikap untuk memutus hubungan kerja sejumlah pegawai UKSW karena kesalahan yang telah dilakukan. Pak Broto menghadap Rektor dan memohon agar mereka tidak diputus hubungan kerjanya. Apa yang membuat Seorang Broto berani mengajukan permohonan itu?

Pak Broto mengurai argumennya dengan melandasi semua dari 3 hal, yaitu Kebenaran (Alethia), Keadilan (Dikaiosune), dan Kasih (Agape). Ketiganya membangun spirit Satya Wacana yang dibina sejak awal berdiri.

Menurut Pak Broto, karena Alethia relatif berbeda dan tergantung pemahamannya berdasarkan tingkat keimanan seseorang, sehingga Pak Broto lebih condong melihat dari sisi Keadilan dan Kasih. Pak Broto melihat sisi kasih yang belum tampak dari putusan Sang Rektor. Pak Broto berkata jangan sampai hanya aspek Keadilan saja yang ditunjukan, namun patut juga menimbang Kasih. Karena kasihlah yang membedakan Satya Wacana dengan lembaga lainnya.

Keadilan patut ditegakan, namun jangan sampai ia mematikan ataupun menghacurkan. Sanksi harus diberikan, tapi apakah dengan menjatuhkan vonis menghentikan pekerjaan adalah keputusan yang telah menangkap keinginan dari Kasih? Tentu tidak. Menghentikan mereka dari pekerjaannya, dengan sendirinya mematikan kehidupan bagi keluarga yang menjadi tulang punggung mereka.

Dengan argumen Kasih dan Keadilan itulah Pak Broto memohon agar Sang Rektor merubah keputusannya. Dan itulah yang akhirnya dilakukan oleh O. Notohamidjojo, merubah keputusannya dan mempekerjakan kembali mereka.

Refleksi

Terus terang, cerita tersebut mengugah keimanan saya sebagai seorang Kristen dan alumnus UKSW. Ada sejumlah wisdom yang mau diajarkan melalui cerita tersebut.

Pertama, saya menjadi teringat satu cerita dalam Alkitab tentang Yesus dan Perempuan yang Berzinah. Ketika sekumpulan orang-orang itu ingin menegakkan keadilan Taurat dengan melemparinya hingga mati seperti diajarkan Musa. Yesus berpendapat berbeda dan menuliskan siapa yang tidak berdosa, biarlah dia yang bisa pertama kali melemparkan batu tersebut. Dan orang-orang itupun meninggalkan Yesus dan perempuan yang berzinah itu. Yesus meminta kepada perempuan itu untuk tidak melakukan lagi perbuatan itu, lalu meninggalkannya sendiri.

Keinginan mereka untuk membunuh, ditolak oleh Yesus. Penegakan keadilan tidaklah boleh menghancurkan, itu yang saya pahami. Lalu dimana letak keadilannya? Mendapat cap sebagai perempuan berzinah saja sudah sangat berat bagi perempuan itu, apa perlu juga mengambil nyawanya juga? Lalu bagaimana dengan (kemungkinan) keluarga ataupun anak-anaknya yang ditinggalkan? Adilkah itu?

Kedua, keberpihakan Pak Broto kepada mereka yang lemah dan terpinggirkan. Ya, para pegawai itu telah melakukan kesalahan, itu saya sadari benar, mereka lemah karena mereka hanya pegawai biasa dan mungkin orang-orang awam yang tidak mampu membela dirinya sendiri. Terpinggirkan, tersisih karena perilaku mereka itu. Saya yakin, mindset seorang Broto tersebut, tidak hanya dipahaminya setelah (mungkin) mendengar masalah pemutusan kerja pegawai UKSW tersebut, melainkan telah ia imani dan gumuli sejak lama.

Sekali lagi, sama dengan keberpihakan Yesus kepada mereka yang kecil. Dan yang terpenting adalah prinsip itu dilakukan dan bukan hanya diucapkan saja.

Ketiga, rupanya kepemimpinan UKSW dibawah O. Notohamidjojo tidak risih terhadap “protes/kritik”. Sang Notohamidjojo mau menerima masukan-masukan yang berbeda dengan padangannya sebagai seorang Rektor. Dengan merubah keputusannya dari pemberhentian menjadi dipekerjakan kembali, Sang Notohamidjojo menerima pandangan Kristiani seorang Broto, bahwa keadilan jangan sampai mematikan kehidupan, seperti diinginkan oleh kasih.

Namun apakah kepemimpinan yang mau menerima ”protes/kritik” dan memahami bahwa kasih dan keadilan harus berjalan beriringan itu telah dipahami setiap elemen dalam diri UKSW saat ini, dan mungkin dimasa yang akan datang? Saya tidak tahu jawabnya. Apabila hal itu telah hilang dalam jati diri Satya Wacana? Tentu jawabnya dapat terbaca dalam cerita di awal, “apa bedanya Satya Wacana dengan lembaga lain?”.

Dengan berani mengubah keputusannya, Sang Notohamidjojo bersedia melawan arus pemikiran civitas yang (mungkin) setuju dengan pemberhentian itu. Ini menunjukan kepada saya, bahwa beliau bukanlah pemimpin dengan mengharap popularitas ataupun sanjungan. Ia adalah pemimpin yang mampu melihat keadilan dan kasih sesuai dengan kepercayaan iman kristianinya, mungkin sama dengan cara berfikir Yesus saat menghadapi kerumunan orang yang ingin merajam si perempuan zinah itu.

Terakhir, sebagai sarjana hukum dan seorang kristiani, saya mendapatkan pelajaran beharga dari kisah di atas, yaitu spirit Satya Wacana tentang Kebenaran, Keadilan, dan Kasih, patut menjadi dasar dalam memahami aturan-aturan baik tertulis maupun tidak, yang berlaku. Jangan sampai spirit itu hanya menjadi slogan-slogan kristiani saja, dan tidak mampu menjadi nilai-nilai yang menghidupi setiap pasal-pasal yang ada dalam aturan yang berlaku. Menghilangkan spirit itu, sama saja menghilangkan kehidupan yang telah Tuhan beri.

Amin.

Catatan: Kisah ini saya tuliskan kembali, setelah mendengar hasil perbicangan seorang teman dengan Pdt. Broto Semedi. Mungkin masih banyak kekurangan, akan tetapi esensi cerita sama. Semoga bermanfat. (sfm)

One thought on “CH (274): Permohonan Seorang Broto Semedi

  1. Pak Broto adalah salah seorang yang saya kagumi. Berani melawan arus jika memang dia yakini sikapnya benar. Pada hari ini, Senin, 27 Mei 2013 pk 15.00 beliau telah dipanggil Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s