CH (285): Membuat Profil Seseorang untuk Blog Dikenakan Pasal 26 UU ITE?

Ada satu komentar menarik yang masuk dalam posting tulisan saya berjudul, CH (276): Permintaan Seseorang untuk Menghapus Sebuah Tulisan di Blog ini, Pendapat Anda?”. Walaupun yang bersangkutan (ybs) menyodorkan aturan sebagai pijakan, namun sayang (dalam kasus saya) ybs salah memahaminya.

Komentar itu berbunyi, “Mas Sam sebaiknya kalau nulis data pribadi seseorang sesuai UURI No. 11 Tahun 2008 Tentang ITE pasal 26 kita perlu persetujuan orang yang bersangkutan”. Sebelum saya memberikan komentar mari kita pahami dan mengarisbawahi apa yang disebut data pribadi, terutama dalam UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

UU ITE tidak mendefinisikan secara tegas apa itu data pribadi. Dalam bagian Ketentuan Umum, Pasal 1, hanya terdapat pengertian tentang Dokumen Elektronik (ayat 4). Dokumen Elektronik adalah setiap Informasi Elektronik yang dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui Komputer atau Sistem Elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol atau perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.

Kata Data Pribadi disinggung dalam Pasal 26 UU ITE, adalah sebagai berikut:

(1) Kecuali ditentukan lain oleh Peraturan Perundangundangan, penggunaan setiap informasi melalui media elektronik yang menyangkut data pribadi seseorang harus dilakukan atas persetujuan Orang yang bersangkutan.

(2) Setiap Orang yang dilanggar haknya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengajukan gugatan atas kerugian yang ditimbulkan berdasarkan Undang-Undang ini.

Lebih dalam, saya ajak pembaca sekalian melihat penjelasan Pasal 26 tersebut. Isi penjelasan Pasal 26 adalah sebagai berikut:

Ayat (1)

Dalam pemanfaatan Teknologi Informasi, perlindungan data pribadi merupakan salah satu bagian dari hak pribadi (privacy rights). Hak pribadi mengandung pengertian sebagai berikut:

a. Hak pribadi merupakan hak untuk menikmati kehidupan pribadi dan bebas dari segala macam gangguan.

b. Hak pribadi merupakan hak untuk dapat berkomunikasi dengan Orang lain tanpa tindakan memata-matai.

c. Hak pribadi merupakan hak untuk mengawasi akses informasi tentang kehidupan pribadi dan data seseorang.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Mencoba merangkum Pasal 26 beserta penjelasannya, maka paling tidak kita dapat meraba sedikit batasan apa itu data pribadi, walau belum memberikan definisi. Penjelasan Pasal 26 menyatakan dengan jelas bahwa data pribadi adalah salah satu bagian dari hak pribadi, dengan cakupan: (a) menikmati kehidupan bebas dari gangguan; (b) berkomunikasi dengan orang lain tanpa dimata-matai; dan (c) mengawasi akses informasi tentang kehidupan pribadi dan data seseorang.

Kembali ke komentar di awal tulisan ini, “Mas Sam sebaiknya kalau nulis data pribadi seseorang sesuai UURI No. 11 Tahun 2008 Tentang ITE pasal 26 kita perlu persetujuan orang yang bersangkutan”. Pertanyaannya adalah apakah komentar tersebut dapat dibenarkan? Hanya dengan menggunakan Pasal 26 penjelasannya, maka jawabannya ada 2.

Pertama, seseorang wajib mendapatkan ijin terlebih dahulu sebelum menggunakan data pribadi seseorang, jika data tersebut tersimpan dalam data elektronik yang memang sengaja tidak dipublikasikan untuk umum.

Pernyataan di atas menimbulkan tanya, bagaimana jika data pribadi tersebut telah ada di dunia maya, karena seseorang/banyak orang telah menulisnya terlebih dahulu. Ambil contoh, misalnya data pribadi yang dimaksud adalah mengenai tanggal dan tempat lahir, pendidikan, dan risetnya. Maka ketika saya akan membuat profil Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng., Ph.D., menggunakan infromasi yang berserakan di dunia maya, untuk tulisan di blog saya, apakah saya perlu meminta ijin Sang Rektor?

Kedua, jawabannya tentu tidak. Kenapa? Data pribadi (tanggal dan tempat lahir, pendidikan, dan risetnya) Sang Rektor dengan sangat mudah kita cari di dunia maya. Wikipedia bahkan membuat profil beliau dan menerangkan jika beliau lahir di Klaten, 13 Maret 1947. Lalu bagaimana dengan pendidikan? Situs evaluasi.dikti.go.id yang dapat diakses terbuka memperlihatkan dengan gamblang, Sang Rektor lulusan Teknik Sipil UGM, memperoleh Master of Engginering-nya di AIT Bangkok, dan Ph.D-nya dari Universitas Iowa, Amerika Serikat. Untuk mencari data tentang riset yang pernah dilakukan dapat dkita lihat di situs UGM. Sang Rektor diantaranya pernah ikut di proyek pesisir dan pantai tahun 2004 dan proyek irigasi andalan DIY tahun 2003.

Memang sangat mudah mencari data-data seperti itu di dunia maya, namun ada juga yang tidak ada. Sangat mudah membuat profil seseorang yang sudah terkenal (misalnya selebiritis atau mungkin pejabat negara), karena biasanya infromasi-informasi itu sangat mudah di dunia maya. Berbeda jika kita mungkin membuat profil seseorang yang belum terkenal, atau belum banyak dikenal. Selain dibutuhkan kehandalan di dalam mencari di dunia maya, karena data-data sulit ditemuai, bisa jadi data-data memang tidak ada.

Nah, masalah lain juga timbul ketika banyak atau tidaknya informasi yang ada di dunia maya, yaitu masalah kevalidan data tersebut. Karena bisa terjadi, situs A menulis berbeda dengan situs B. Jika ini terjadi terbuka peluang kesalahan data. Ini wajar saja terjadi. Bahkan data-data yang bersumber dari situs-situs terpercaya (pemerintah atau lembaga pendidikan) pun tidak jauh dari celah kesalahan. Itu mengapa ada semacam ungkapan, “jangan percaya dunia maya 100%, namanya juga dunia maya”.

Lalu kalau data tidak valid, apakah perlu melakukan cross-check data? Penulis blog boleh saja melakukan klarifikasi data, akan tetapi itu bukan sebuah keharusan dan tidak ada hukumnya melakukan itu. Penulis blog bukan mengerjakan tugas sebagai wartawan yang patut melakukan klarifikasi data, cover both side, dan lain-lain sesuai tuntutan profesi kewartawanan.

Kesalahan tentu sangatlah wajar, jangankan penulis blog, seorang wartawan pun bisa kena kesalahan dalam menulis beritanya, walau telah dilengapi dengan prosedur pembuatan berita yang benar. Maka dari itu, sangatlah berguna apa yang dinamakan koreksi. Siapa saja yang memiliki data yang lebih valid berhak dan menurut saya wajib memberikan koreksi. Demikianlah keseimbangan di dunia maya, dimana sebuah tulisan, jika memang salah, patut mendapatkan respon melalui tulisan lain. Kontra tulisan dimaksudkan agar terjadi diskusi membangun.

Simpulan

Untuk kasus saya, maka Pasal 26 dan penjelasannya tidak bisa digunakan untuk melarang/tidak perlu mendapatkan ijin seseorang membuat profil bagi tulisan di blog, karena data yang saya gunakan tersedia di dunia maya, dan bukan hasil “mencuri” dari data elektronik yang memang tidak dipublikasikan umum. Walaupun demikian, pembaca dituntut kritis, sehingga tidak serta-merta mengamini apa yang disajikan, karena kesalahan tulis bisa saja terjadi. (sfm).

One thought on “CH (285): Membuat Profil Seseorang untuk Blog Dikenakan Pasal 26 UU ITE?

  1. Aku bukan orang awam “the man in the street” soal itu, tapi menurut pendapat pribadi, data pribadi yang sudah di expose di media resmi sudah menjadi ranah publik, kalau tidak minta sama yang bersangkutan untuk menarik semua data pribadinya. Kalau memang itu untuk dipakai sebagai referensi sebutkan saja sumbernya, bro! EGP aja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s