CH (Special Community): KTMI, Bertani dengan Bakteri

Komunitas Tani Mandiri Indonesia (KTMI) dibentuk untuk meninkatkan sumber daya manusia pertanian agar dapat mengusahakan usaha pertanian secara swasembada dan swadaya sendiri  tidak tergantung pada produsen lain. Hal ini disebabkan petani sebagai produsen sementara ini menghadapi resiko cukup tinggi baik dari segi sumber daya alam dan iklim terlebih ketergantungan pada produsen lain sangat tinggi yang mana produsen lain bisa mendapatkan keuntungan dari petani sedangkan apabila petani gagal panen resiko kerugian hanya ditanggug petani.

Melihat pernyataan tersebut diatas komunitas tani mansiri Indonesia dengan mitra Lembaga Peneliti dan Pengembang Sumber Hayati mengembangkan sistem pertanian Bakterial dimana KTMI akan dilatih dan didampingi untuk membuat sendiri seluruh kebutuhan untuk pupuk dan obat-obatan pencegah hama dan penyakit dengan sistem Introduksi Bakteri, sehingga dengan sistem ini biaya petani untuk pupuk dan obat pencegah hama dan penyakit dapat ditekan seminimal mungkin hanya menggunakan Rp. 350.000,00 per hektar lahan.

Untuk pembentukan komunitas tani mandiri hanya diperlukan 7 – 10 petani per komunitas yang benar-benar ingin maju dengan meningkatkan produksi berbiaya sangat murah.Dengan tidak tergantungnya petani pada pihak luar dalam menjalankan usahanya, petani menjadi Interprenuer dan manager didalam usaha pertaniannya yang dapat menentukan sendiri bagaimana usaha tani mau dikembangkan. Dalam melakukan usaha tani dalam komunitas tani mandiri akan didampingi secara teknis dan pembinaan oleh Lembaga Peneliti Dan Pengembang Sumber Hayati.

Pengembangan sistem bakterial dengan Introduksi Mikrobia tanah untuk dapat bersimbiosis dengan bakteri tanah lainnya akan selalu dapat menyediakan unsur tersedia bagi tanaman apapun komoditas yang diusahakan disamping itu akan memperkuat jaringan tanaman agar tidak mudah terkena penyakit dan disukai hama.Banyak berkembang dewasa ini pupuk organik cair dengan berbagai merk yang masih berorientasi pada Introduksi unsur dari pengkomposan bahan-bahan organik sehingga masih menekankan pada Introduksi unsur dari material organik yang jelas tidak akan berani untuk menghilangkan sama sekali pupuk kimia N,P dan K dan obat-obat pencegah hama Chemicel hanya mengurangi penggunaan pupuk kimia dalam aplikasi di lapangan menunjukkan yang berpotensi pada pertumbuhan tanaman berasal dari pupuk kimianya atau dari pupuk organiknya masih harus dipertanyakan. Sedangkan dengan sistem Introduksi  bakteri tanah berani melepas total pupuk kimua N,P dan K serta obat-obatan pencegah hama dan penyakit.

Pupuk organik cair yang banyak berkembang sangat lain dengan Introduksi dengan mikrobia tanah karena pupuk organik cair yang banyak beredar dilapangan adalah hasil decomposting bahan-bahan organik oleh bakteri decomposer yang umumnya bersifat anaerob atau semiaerob yang apabila masuk kedalam tanah akan mati dalam waktu yang singkat karena ditanah  terdapat O2 yang sangat berperan pada pernafasan akar, sehingga hanya unsur dalam konsentrasi yan sangat kecil yang tidak berpotensi kepada pertumbuhan tanaman apabila tidak dibantu dengan pupuk kimia buatan.

Untuk itu komunitas tani mandiri Indonesia mengajak semua petani Indonesia bergabung membentuk KTM mengembangkan pertanian bakterial dimana pada sistem ini ketepatan species yang diaplikasikan menjadi penentu kesuburab utama yang mana dapat dilihat dilapangan pada tanaman yang dapat tumbuh dengan sehat dan berproduksi secara baik

Sumber: teks dan foto berasal dari situs resmi KTMI. (sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s