CH (Special Opinion): Bentuk Ekonomi Indonesia: Ekonomi Telephone Genggam

Oei Nan Sun

Belakangan ini sering terdengar istilah NeoLib(eral) untuk mencirikan bentuk ekonomi Indonesia. Tidak tegas didefinisikan macam apa paham ekonominya, tapi sering dikonotasikan sebagai ekonomi yang berpihak pada kapital, dan jauh berpihak dari kepentingan rakyat. Juga sering dibincangkan dari yang disebut dalam UUD, lalu Ekonomi-Berdikari Bung Karno, Ekonomi Koperasi, Ekonomi-Pancasila, Sosialis, Kapitalis, Liberal dsb. Lalu kenyataannya sekarang ini bentuk ekonominya apa? Perkenankan saya menyebutnya sebagai Bentuk Ekonomi Telephone Genggam. Artinyanya? Artinya bahwa kita hanya jadi konsumen saja, ditodong kebutuhan baru dengan teknologibaru, sedang kemampuan memproduksi kita sangat lemah. Lalu penjelasannya bagaimana ini, nama bentuk ekonominya kok telephone-genggam, dan ekonomi bukan cuma telephone genggam saja bukan?

Memang benar bahwa ekonomi negara bukan cuma besaran ekonomi telephone genggam saja, tapi dalam hal ini saya jadikan nama bentuk ekonomi karena keadaan bentuk ekonomi telephone genggam pas untuk mewakili keadaan ekonomi Indonesia. Istilah ‘telephone genggam’ juga dipinjam untuk dipakai karena ‘pop’ di masyarakat, yang sebenarnya di sini mewakili bidang komunikasi suara, video, dan data. Lalu, bagaimana bentuk ekonomi itu? Mari kita bahas lebih lanjut.

 Ekonomi Telephone Genggam Sebagai Ciri Khas (Proto Type) Ekonomi

Di mana-mana kita lihat orang bertelephone-genggam ria. Di jalan, baik berhenti maupun sambil jalan, orang berkomunikasi dengan telephone genggam. Di pasar, sekolah, kantor, toko juga kita lihat orang bertelephonegenggam ria, baik dalam bentuk suara atau pencet-pencet tombol untuk SMS. Belakangan juga berkomunikasi internet. Coba kita hitung berapa uang yang dibelanjakan untuk berkomunikasi ria itu.

Dari harga per buah untuk telephone genggam sekitar Rp 500.000,- sampai Rp 5.000.000,- keatas, lalu dari yang sudah tak dipakai kemudian diganti yang baru dari waktu ke waktu, tak akan meleset jauh jika kita ambil harga rata-ratanya Rp 1.000.000,- per buah. Jumlah pemakai telephone genggam juga tak bakal meleset jauh dari 100.000.000. Maka jumlah uang yang dibelanjakan untuk pengadaan pesawat telephone genggam secara nasional adalah Rp 100 trilyun. Sebuah angka yang mencengangkan. Bahkan pengeluaran untuk pesawat telephone ini sudah 10% APBN 2010! Mengingat kemampuan kita untuk memproduksi pesawat telephone genggam ini hampir tidak ada, maka devisa kita keluar untuk mengimpornya.

Angka 1 dengan nol sebanyak 14 biji tersebut belumlah lengkap, masih harus ditambah peralatan yang harus dipasang oleh penyedia jasa komunikasi agar bisa berfungsi. Itu meliputi sentral telephone, menara stasiun penyiarpenerima (Base Transceiver Station/ BTS ) dsb. Berapa nilainya? Mari kita dekati angkanya dari laporan keuangan 2010 tiga perusahaan penyedia jasa telephone yang besar. Kita lihat aset tetap , dikurangi perkiraan 10% aset tanah dan bangunan, maka kita temukan aset peralatan yang sebagian besar tentu adalah peralatan telekomunikasi dan yang berhubungan dengan itu. Angkanya sebelum penyusutan adalah Rp 247,0 trilyun(Lihat tabel-1 di bawah). Lagi, karena produksi peralatan komunikasi dalam negeri minim, tentu peralatan komunikasi yang dua ratusan trilyun itu harus diimpor. Jadi pesawat telephone genggam & peralatan komunikasi yang totalnya sekitar Rp 350 trilyun itu adalah devisa negara yang harus dikeluarkan.

 Tabel 1: Aset peralatan layanan telekomunikasi, angka-angka dalam milyard Rupiah, menurut laporan keuangan 31 Desember 2010.

Bayangkan kalau pesawat telephone genggam dan peralatan layanan telekomunikasi tersebut bisa dibuat sendiri di Indonesia, berapa devisa yang bisa dihemat, dan berapa tenaga kerja yang bisa diserap untuk mengurangi pengangguran.

Lebih lanjut, nillai diatas, yang Rp350 trilyun tadi, sebenarnya adalah investasi peralatan. Bagaimana dengan biaya pemakaian yang harus dibayar untuk telekomunikasi secara nasional? Mari kita lihat saja dari pendapatan tiga perusahaan penyedia telephone besar, berdasarkan laporan keuangan mereka th 2010 ( Lihat Tabel-2 ). Secara nasional, tak kurang dari Rp 106 trilyun dibelanjakan untuk biaya pakai komunikasi. Yang perlu diperhatikan, bahwa keuntungan bersih ke tiga perusahaan layanan telekomunikasi tersebut mencapai Rp 15 trilyun. Mengingat bahwa investor asing mempunyai saham di sektor komunikasi, maka sebagian keuntungan dari bertelephone-genggam ria ini menjadi milik asing. Kemudian jika ada pembagian keuntungan/ deviden, maka bisa menjadi pengeluaran devisa negara lagi. Jadi disini kita lihat bentuk ekonominya: Investasi pesawat telephone genggam dan sejenisnya, investasi prasarana peralatan pelayanan komunikasi, memerlukan pengeluaran devisa. Ditambah lagi, karena pihak asing punya andil di perusahaan layanan komunikasi, maka kembali terjadi pengeluaran devisa dalam bentuk deviden.

Tabel 2: Pendapatan dan laba bersih tiga perusahaan layanan telekomunikasi th 2010, dalam milyar Rupiah.

Bisakah kita memproduksi sendiri peralatan telekomunikasi? Harusnya bisa, tapi kenyataannya ‘kan belum. Nah, kalau begitu kita kurangi saja kebutuhan berkomunikasi bukan? Tidak bisa, karena komunikasi telah menjadi “Kebutuhan hajat hidup orang banyak”. Jadi masalahnya: Telah terjadi ketidak-seimbangan antara kemampuan berproduksi terhadap kebutuhan. Situasi tambah runyam dengan masuknya modal asing untuk nimbrung di bidang operator telephone, tidak Cuma memasok peralatannya. Memang masuknya modal asing membawa devisa, tapi ujung-ujungnya ‘kan untungnya di bawa keluar juga. Inilah pokok masalahnya. Tentang kebutuhan terhadap pemenuhannya, atau kemampuan berproduksi, lebih jelas bisa dilihat pada

Gambar-1, grafik perkiraan di bawah ini.

Tampak jelas ketimpangannya. Sebagai pembanding, di negara maju, polanya lebih ‘normal’.

Menuju Kebangkrutan Ekonomi

Tidak cuma ‘telephone genggam’, banyak bidang-bidang ekonomi lain yang bentuknya serupa dengan cirri khas (Proto type) ini, misal peralatan komputer, TV, AC, mobil, pesawat terbang, mesin industri, kapal, peralatan militer canggih, kulkas dsb. Orang bisa bilang memangnya kenapa, bukankah buktinya Indonesia tidak bangkrutbangkrut? Sesudah krisis moneter th 1998 pun ekonomi jalan lagi bukan? Ini komentar penghiburan saja, jangan berpikir pendek, ancaman bangkrut di masa depan ada. Tak ada yang ajaib, ekonomi Indonesia tidak ajaib, semua bisa diterangkan. Kita belum bangkrut karena masih punya kekayaan alam untuk dijual, dari hasil tambang, hasil hutan dsb, masih menghasilkan pemasukan devisa. Tapi bagaimana jika kekayaan alam menipis, bisakah kita bertahan untuk tidak bangkrut? Kita lihat pada Produk Domestik Bruto Indonesia (PDB) th 2010, 10% dari pertambangan, atau Rp600 Trilyun. Ingat, bahwa yang kita eksplorasi sebenarnya lebih besar lagi, karena nilai ekspor sudah dikurangi impor dalam menghitung PDB. Kita belum bangkrut dalam arti likuiditas, juga karena pemerintah rajin berhutang mata uang asing. Kalau kekayaan alam habis, dan kita tak dapat berhutang karena tidak punya lagi yang bisa dijaminkan, niscaya kebangkrutan segera tiba. Ciri lain dari ekonomi telephone genggam Indonesia adalah cepat panas, begitu pertumbuhan naik, inflasi cepat datang, artinya pasokkan kurang, produksi kurang, Rupiah turun karena pengeluaran devisa untuk impor.

Peran Pemerintah Belum Optimal

Dalam mengelola ekonomi nasional tentu saja peran pemerintah ada di barisan paling depan, tapi kenyataannya peran pemerintah tidak optimal, bahkan tidak jelas tujuan dan tindakannya mengarah ke mana. Jadilah bentuk-ekonomi-telephone-genggam. Tidak cuma yang berteknologi tinggi, yang berteknologi rendah pun masih import. Garam pun misalnya, sebagian besar masih import. Apa sulitnya buat garam? Nah, orang bisa bilang karena harga garam import lebih murah, kita anggota WTO, jadi harus menganut perdagangan bebasnya, tak bisa dihentikan garam luar negeri masuk. Tapi orang juga bisa tanya mengapa garam dalam negeri lebih mahal? Sejauh mana pemerintah melakukan studi teknik berproduksi garam yang murah dan mengatasi harga yang lebih mahal? Dengan negeri yang terpanjang pantainya di dunia, apa benar tidak bisa buat garam murah? Mana usaha pemerintah? Misal lagi, yang lain, ketika Australia menghentikan export sapi ke Indonesia, nah, mulai kuatir kekurangan daging. Lagi, pertanyaan serupa, apa sulitnya beternak sapi? Mana peran pemerintah dalam memajukan peternakan dalam negeri? Hampir tak terlihat, terutama kalau diukur dari hasilnya. Pemerintah hanya bermain di besaran-besaran ekonomi yang kerap kali justru bisa mengaburkan pandangan keadaan ekonomi yang sesungguhnya. Misal Produk Domestik Bruto tumbuh 6,5%, apa iya artinya mengurangi pengangguran? Belum tentu, jangan-jangan adalah karena hasil tambang tembaga yang meroket harganya sampai USD 9000/ ton dibanding harga sebelumnya yang USD 4000. Cadangan devisa meroket sampai USD 120 milyard, rupiah menguat, apa artinya eksport juga meroket? Tidak, yang terjadi adalah mengalirnya modal asing, yang malah menjadi ancaman kalau hengkang, sebab masuknya tidak di investasi sektor riil, tapi malah ke bursa saham dan surat-hutang/ bond. Sejalan dengan itu, indek saham pun meroket, tembus 4000 membuat rekor tertingginya. Apa ini artinya ekonomi membaik? Bukan, ini gelembung yang membesar, jika meletus langsung saja kempes.

Memang usaha pemerintah bukan nol, tapi tidak optimal, bahkan sangat kurang. Persero PT Pindat, Pal Indonesia adalah contoh-contoh yang baik, yang perlu terus diperluas. Perusahaan swasta juga perlu didukung untuk berkembang, baik modal, teknik berproduksi, pemasaran dsb. Sarjana-sarjana teknik kita tidak cukup bawa ijazah saja, tapi perlu peningkatan kemampuan di tempat kerja. Pada disiplin ilmu sarjana lainnya, juga akan meningkat kemampuannya di tempat kerja. Pemerintah telah memajukan industri-demokrasi yang sangat mahal, pilkada dan pemilu dengan biaya trilyunan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, lalu mengapa tidak di bidang produksi sektor riil? -Selesai.

Catatan: Penulis opini di atas adalah Oei Nan Sun. Atas seijin yang bersangkutan, tulisan ini ditayangkan di sini. (sfm).

One thought on “CH (Special Opinion): Bentuk Ekonomi Indonesia: Ekonomi Telephone Genggam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s