CH (308): Menerawang RHK 18 Juni 2012

Renungan Harian Kampus (RHK) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menurunkan satu renungan berjudul, “Bukan Ketaatan Buta”, pada tanggal 18 Juni 2012. Ada kisah menarik yang diangkat dalam renungan tersebut, namun secara pribadi saya berharap cerita itu tidak akan pernah terjadi di dalam tubuh Satya Wacana.

Campus Ministry (CM) mengangkat tema RHK semester ini dari Pengkotbah 9:10, ”Segala Sesuatu Yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga”. Dalam pengatarnya, Koordinator CM Pdt. Wellem Sairwona, M.Th., berharap agar lewat tema tersebut civitas semakin menyadari bahwa: (1) kesempatan bekerja dan belajar di UKSW adalah anugerah Tuhan; (2) kesempatan menikmati setiap hal yang bisa kita kerjakan adalah suatu yang tidak akan terulang, maka lakukanlah yang terbaik; (3) menjalani hidup akan semakin hampa bila kita menjauhkan diri dari persekutuan kita dengan Tuhan dan sesama; (4) akhirnya civitas diharapkan sadar bahwa Allah akan membawa setiap perbuatan kita ke pengadilan ilahi. Lalu, apakah harapan-harapan itu sejalan dengan kisah yang tersaji dalam RHK pada tanggal 18 Juni 2012? Berikut isi RHK itu.

Juni 18
Bukan Ketaatan Buta

Suatu saat seorang penatua bertanya kepada saya dengan nenunjuk pada ayat ini. “Pak pendeta. Sebagai bawahan, saya pernah diminta oleh pimpinan untuk membuat laporan keuangan fiktif. Pada waktu itu saya bingung. Kalau saya menuruti permintaannya, itu berarti saya berbuat dosa. Kalau saya menolak melakukan perintahnya, saya bisa dipindahkan atau dinon-jobkan. Penghasilan saya pasti berkurang, padahal saya membutuhkan itu untuk biaya sekolah anak-anak. Akhirnya, saya putuskan membuat laporan fiktif. Saya sadar itu dosa. Tapi mau bagaimana lagi? Apakah bagian yang disiapkan Tuhan sebagi upah tidak lagi akan saya terima?

Saya menjawab kepada bapak itu sebagai berikut: sebagai pegawai negeri kita ini berstatus rangkap: abdi negara dan abdi Tuhan. Kita harus tunduk kepada pimpinan di kantor, tetapi juga kepada kehendak Bapa di sorga. Betapa sering perintah pimpinan bertentangan dengan perintah Allah. Kalau saya yang berhadapan dengan situasi ini saya akan berbuat begini. Saya katakan kepada pimpinan bahwa permintaannya untuk saya membuat laporan fiktif bertentangan dengan kehendak Allah dan nilai-nilai kebenaran dan kekudusan. Sebagai orang percaya sebaiknya bapak juga mau memikirkan ulang tindakan tersebut. Tetapi kalau bapak menganggap perbuatan itu baik dan tetap meminta hal itu, saya akan melakukannya.

Jadi, kita harus taat pada pimpinan di tempat kita bekerja, tetapi bukan ketaatan buta melainkan kritis. Sebelum melakukan hal-hal yang salah yang diperintahkan pimpinan kita, perlu mengingatkan dia akan kebenaran firman Tuhan secara sopan. Tuhan melihat hal itu dan pasti akan memberi upah setelah melihat usaha keras kita. Demikian juga upah akan Tuhan berikan kepada pemimpin – pemimpin yang semacam itu.

Secara pribadi, saya coba merasakan kesusahan hati yang dialami oleh bahwahan tersebut, memang sangatlah sulit mengambil keputusan dalam kondisi seperti itu. Di satu sisi, dia harus melakukan tindakan yang tercela (dengan membuat laporan fiktif atas perintah pimpinan), di sisi yang lain dia mengalami ketakutan apabila tidak melakukan hal itu dia akan dipindahkan atau dinonjobkan. Namun keputusan telah dibuat, dan bawahan itu pun membuat laporan fiktif agar ketakutannya (yaitu dipindahkan/dinonjobkan) tidak terjadi.

Seperti tertulis di awal, saya berharap cerita dalam renungan itu tidak akan pernah terjadi di UKSW, dan semoga cerita tersebut tidak mengilhami kejadian-kejadian serupa atau mirip-mirip. Semoga tidak ada civitas yang perlu melakukan tindakan yang tercela hanya untuk mempertahankan eksistensi diri dalam pekerjaannya. Semoga tidak perlu ada civitas yang berlindung dalam bayang-bayang ketakutan (takut dipindahkan/tidak dapat penghasilan tambahan) karena dipaksa untuk melakukan hal yang salah. Dan semoga tidak ada pemimpin yang memerintahkan tindakan tercela bagi bawahannya.

Semoga…ya semoga, karena semua keputusan tentu kembali ke tangan masing-masing. Namun satu hal yang perlu dicatat, seperti yang diharapkan oleh CM, bahwa ketika memahami bekerja di UKSW sebagai anugerah Tuhan dan harus dikerjakan dengan sebaik-baiknya, dan selalu berusaha mendekatkan diri dalam persekutuan dengan Tuhan, maka haruslah disadari bahwa setiap keputusan-keputusan yang dibuat akan dibawa kedepan pengadilan Tuhan. (sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s