CH (Special Note): Tokoh

SERING kita dengar atau baca di media cetak, tokoh-tokoh Batak bertemu di suatu tempat, membuat rencana, menyuarakan sikap, pernyataan, imbauan, atas suatu hal. Media cetak spesialis muatan lokal Batak acap pula menampilkan sosok yang disebut tokoh Batak. Latar belakang mereka beragam, tapi tak jauh dari pejabat pemerintah, petinggi militer (eks atau masih aktif), pebisnis, profesional BUMN atau swasta, advokat, politikus, hingga pengurus parpol atau ormas.

Tapi, pengaruh mereka yang disebut tokoh itu hampir tak ada bagi masyarakat Batak, di manapun berada. Barangkali karena itulah suara mereka tak lama bergema, tenggelam setelah sekejap meletup. Masyarakat Batak di bonapasogit maupun di panombangan (perantauan) seolah tak pernah melegitimasi ketokohan mereka—meski tak diucap tegas. Mungkin mereka akui kelebihan person yang disebut tokoh itu, tapi cukup sampai di situ.

Agak beda dengan masyarakat Minang, Madura, Toraja, Bali, Dayak, Bugis, Flores, Maluku, atau Papua.  Pentolan-pentolan suku yang disebut tokoh, punya pengaruh. Suara mereka cukup bergaung, dipatuhi, terutama bila menyangkut kepentingan suku dan wilayah. Satu contoh, bantuan untuk korban gempa Padang begitu cepat terkumpul dengan jumlah yang fantastis, tak lepas dari seruan tokoh-tokoh Minang. Dayak pun begitu, tak pandang agama, sekali bersuara, umumnya orang Dayak akan mendengar dan mematuhi.

Apa sebab hingga tak demikian halnya bagi masyarakat Batak, sementara kita tahu begitu banyak yang disebut tokoh, setidaknya tersiar dari media massa?  Kenapa pula gerakan atau ajakan mereka, misalnya, mempedulikan bonapasogit, membangun persatuan, saling tolong-menolong,  tak mampu menggugah dan berwujud melalui tindakan nyata?

Ada yang mengatakan, karena yang mengaku tokoh itu hasil klaim sendiri. Atau, hasil pembesar-besaran segelintir orang padahal belum layak disebut tokoh. Ada pula yang mengaitkan dengan karakter dasar masyarakat Batak yang egalitarian, menempatkan semua pihak sebagai “raja,” karenanya sulit menerima atau mengakui orang lain berkedudukan lebih tinggi dari dirinya—dan pandangan inilah yang ditengarai penyebab menguatnya sifat keras kepala, enggan mengakui kelebihan orang lain, dan selalu menuntut setara sementara dirinya belum tentu punya kelebihan yang patut ditonjolkan.

Dua pendapat di atas layak dipertimbangkan. Namun bila ditelisik lebih jauh, masyarakat Batak sejatinya bukan prototipe suku yang emoh mengakui tokoh atau pemimpin. Sejarah maupun kajian antropologis memperlihatkan betapa masyarakat adat, dahulu begitu patuh pada pemimpin yang disebut raja huta/tunggane huta (dikendalikan oleh suatu marga) dan yang lebih luas: bius (kekuasaan kolektif atas suatu wilayah, terdiri dari beberapa marga, hasil pilihan parbaringin, para pemimpin spiritual).

Selain kepemimpinan yang bersifat kolektif, masyarakat adat Batak pun mematuhi pemimpin perseorangan (mungkin lebih tepat disebut klan) macam “dinasti” Sisingamangaraja, “dinasti” Paltiraja (Samosir Selatan), Jonggi Manaor (Sianjur Mulamula), atau Ompu Babiat yang berkuasa dari Harian Boho-Samosir hingga Dairi. Memang, dalam sejarahnya, tak satu pemimpin pun yang mampu menguasai seluruh wilayah Tano Batak. Yang disebut di atas pun tetap mengakui berlakunya sebuah aturan yang mirip azas primus inter pares, menghormati pemimpin lain, meski de facto mereka kuasai wilayahnya.

Ciri egaliter, menghormati yang lain (terutama yang dianggap pemimpin), sesungguhnya sudah sejak lama tertanam dalam diri masyarakat Batak. Sedemikian kuat pengaruh raja huta, bius, parbaringin, hingga anasir pemerintah Belanda harus kerja keras memilih strategi dalam upaya menundukkan Batak. Dengan cerdik mereka runtuhkan lembaga bius, mengkooptasi pemimpin huta dan marga dengan memberi jabatan baru macam nagari, pandua, lalu menyudutkan parbaringin sebagai  tokoh sipele begu (pemuja hantu) yang kala itu, rakyat Batak, tengah digarap misionaris dari Jerman.

Berkuasanya Belanda, berhasilnya misi, kian terbukanya wilayah Batak dari unsur asing akibat menyatunya Tano Batak ke dalam Republik Indonesia, dan tingginya arus migrasi orang-orang ke wilayah lain (manombang), perlahan-lahan menggerus nilai-nilai dasar yang berasal dari norma-norma adat serta aturan sosial yang dilakoni turun-temurun.  Kriteria pemimpin, tokoh masyarakat, pun  mengalami  akulturasi dengan nilai-nilai baru—yang kemudian mengalami kerancuan karena tidak lagi berbasiskan akar Batak.

Tokoh atau pemimpin yang kemudian bermunculan, bukan lagi individu-individu yang memiliki syarat utama: berkharisma, berwibawa, atau karena keturunan (marsahala, marpitonggam, partubu).  Kriteria menjadi tokoh terus bergeser, mengacu pada pandangan modern, dan semakin longgar hingga preman yang berkuasa di suatu wilayah pun bisa dinobatkan tokoh Batak.  Politik yang dikembangkan Orde Baru yang mendelegitimasi kekuasaan pemimpim informal (adat), mempercepat pudarnya para tokoh yang beribawa, diperparah Reformasi 1998 yang melahirkan politikus karbitan yang hanya berorientasi uang dan kekuasaan, yang meraih dukungan lewat iming-iming uang maupun tindakan intimidasi.

Proses transformasi nilai-nilai Batak yang terputus akibat kolonisasi dan modernisasi (kecuali pakem-pakem dalam ritus adat yang masih dilakukan walau mengalami improvisasi di sana sini), semakin tak memungkinkan munculnya tokoh Batak yang berkarakter atau bernilaikan habatakon. Yang kemudian mencoba-coba sebagai tokoh, lebih mengandalkan jabatan, kedudukan, kekuasaan, kalau tak harta.  Itu bukan kriteria dasar seorang uluan (pemimpin)  yang  diidamkan orang Batak umumnya, apalagi sudah terlanjur menganggap semua orang adalah “raja” dengan pandangan keliru,  karenanya tak diakui hingga gagal menyentuh naluri kebatakan yang diminta.

Saya percaya, orang Batak sebenarnya tidak menolak tokoh. Namun, diam-diam mereka syaratkan: tak usah mengaku diri tokoh walau telah melakukan aneka tindakan untuk kebaikan orang lain dan bonapasogit. Sikap tindaknya berlandaskan filosofi habatakon, tak soal berharta atau bersahaja. Maka, jadilah tokoh yang tumbuh alamiah, paham karakter masyarakatnya, niscaya akan dikenang sepanjang masa.  Kecuali motivasinya memang untuk penonjolan diri belaka, lalu memetik keuntungan dari popularitas itu.***

Penulis: Suhunan Situmorang

* Dimuat di koran Batak Pos, Senin, 5 Desember 2011

sumber: akun facebook Suhunan Situmorang. (sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s