CH (320): “Mirip-mirip”, Scientiarum – Suara Merdeka

Berita seputar forum terbuka mengenai “Peraturan Penyelenggaraan Kegiatan Akademik Dalam Sistem Kredit Semester Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW),” yang berlangsung di Balairung Universitas kampus UKSW, Rabu (15/8), mendapat tempat pemberitaan tidak hanya di harian Suara Merdeka (SuMer).

Tiga hari setelah berita kegiatan tersebut ditayangkan di SuMer, baik cetak maupun secara online, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) UKSW “Scientiarum” (SA), menurunkan berita atas kegiatan yang sama di situs resminya. Yang menarik bagi saya adalah “kemiripan” dari berita yang diturunkan oleh keduanya. Berikut sejumlah “kemiripan” itu.

Kemiripan Pertama, Judul Berita:

SuMer:

Semester Antara Wajib Dilaksanakan

SA:

Wajib Laksanakan Semester Antara

Kemiripan Kedua, Kutipan langsung (1):

SuMer:

’’Ini sifatnya wajib, tapi terserah mahasiswa mau ambil atau tidak. Jangankan semester antara, semester gasal atau genap pun, mahasiswa bisa ambil atau tidak,’’ ujar Rektor John Titaley dalam forum terbuka yang diikuti segenap civitas akademika di Balairung Utama UKSW, Rabu (15/8).

SA:

“Ini sifatnya wajib. Tapi terserah mahasiswa mau ambil atau tidak. Jangankan semester antara, semester gasal atau genap pun, mahasiswa bisa mengambil atau tidak,” jelas John A. Titaley dalam Open Forum tersebut.

Kemiripan Ketiga:

SuMer:

John menyatakan, kewajiban menyelenggarakan semester antara untuk meningkatkan mutu pendidikan dan mempercepat kelulusan mahasiswa. Keputusan yang diambil dalam rapat senat terkait hal itu, menurutnya, sudah sesuai prosedur di UKSW dan tidak melanggar satu pun peraturan yang berlaku di Indonesia.

SA:

John juga menyatakan kewajiban menyelenggarakan semester antara untuk menunjang mutu pendidikan dan mempercepat masa perkuliahan mahasiswa. Hasil keputusan dari rapat senat yang terkait hal tersebut, menurutnya sudah sesuai dengan prosedur UKSW dan tidak melanggar peraturan satu pun di Indonesia.

Kemiripan Keempat, kutipan langsung (2):

SuMer:

’’Bukan berarti sebelum ada peraturan menteri hal ini tidak bisa dilaksanakan. Tunjukkan peraturan mana yang kami langgar,’’ katanya.

SA:

“Bukan berarti sebelum ada peraturan dari menteri hal ini tidak bisa dilaksanakan. Tunjukan peraturan mana yang kami langgar,” ujar John.

Kemiripan Kelima:

SuMer:

Selain mahasiswa yang banyak menyuarakan ketidaksetujuan terhadap kewajiban adanya semester antara, hal yang sama diungkapkan para dekan. Di lain sisi, ada dekan yang mendukung sistem tersebut dijalankan. Rully Adi Nugroho, dekan Fakultas Biologi, menilai, dengan adanya tiga semester wajib, bukan hanya mahasiswa yang kesulitan, namun juga dosen yang akan terkendala melakukan penelitian sebagai bagian dari tri dharma perguruan tinggi.

SA: 

Selain mahasiswa yang banyak menyuarakan ketidaksetujuan terhadap kewajiban semester antara, beberapa Dekan juga ungkapkan ketidaksetujuan. Menurut Rully Adi Nugroho, Dekan Fakultas Biologi, bukan hanya mahasiswa yang kesulitan menjalankannya, namun dosen juga akan mengalami kendala dalam melakukan penelitian sebagai tri dharma perguruan tinggi apabila menggunakan sistem tiga semester.

Hmm…

Saya tidak tertarik mengomentari “kemirip-miripan” tersebut, karena mungkin itu hanya kebetulan saja. (sfm).

11 thoughts on “CH (320): “Mirip-mirip”, Scientiarum – Suara Merdeka

  1. ya tinggal SIAPA dulu yang menulis, maka yang BELAKANGAN bisa DIDUGA mencontoh. (copy-paste-edit dikit..)

    Saya beberapa kali menegur seorang teman di FB yang banyak NOTE-nya ternyata COPAS-an dari tulisan orang lain, bahkan teguran saya sampaikan secara terbuka di GRUP tertentu di FB.

    Mengambil tulisan orang lain, itu TIDAK MASALAH, JIKA mencantumkan SUMBERnya, tetapi TIDAK ETIS, jika tanpa menyebutkan sumber, APALAGi jika dengan maksud supaya pembaca MENYANGKA itu adalah tulisan ASLI.

  2. Wah.. sayang sekali jika kedua media tersebut memiliki kemiripan yang dominan.. Semoga next times tidak terjadi lagi (dalam arti, mari belajar berkarya secara kreatif dan orisinil)🙂

  3. Ada beberapa kemungkinan yang terjadi dari tulisan ini

    1. Kemungkinan terburuknya, reporter SA menyadur ulang berita dari SM. Dalam kode etik jelas-jelas itu tak dibenarkan, apalagi jika sang reporter tak ada di TKP. Jelas-jelas ini praktik plagiat. Bukan saja di dunia jurnalistik, praktik plagiat juga sangat diharamkan di berbagai bidang, apalagi pendidikan.

    2. Ini sedikit rahasia dalam jajaran praktik sebagian besar reporter di lapangan. Berbagi berita. Banyak wartawan yang terlibat dalam praktik ini dan sering dijumpai di media manapun. Adakalanya, dalam suatu peliputan, beberapa reporter meminta berita kepada reporter lain. Istilah kasarnya tukang ngetik. Setelah itu baru diedit oleh si penerima. Biasanya lead sama bagaian akhir yang tak luput dari editan, termasuk judulnya. Ini sudah semacam pembenaran di kalangan media. Bukan hanya media cetak, dalam foto jurnalistik dan video maupun online juga banyak terjadi kasus seperti ini. Makanya, kita sering menjumpai alinea yang sama dalam pemberitaan oleh beberapa media.

    • “Ini sedikit rahasia dalam jajaran praktik sebagian besar reporter di lapangan. Berbagi berita. Banyak wartawan yang terlibat dalam praktik ini dan sering dijumpai di media manapun. ”

      pace, bukannya uda jadi rahasia umum ya??

  4. @Saam Fredy Marpaung
    Saya minta maaf sebelumnya. Saya, Leny, penulis berita tersebut menyatakan bahwa berita yang saya tulis berdasarkan fakta yang saya dapat ketika meliput acara Open Forum tersebut. Adapun bukti yang saya miliki berupa rekaman.
    Bilamana rekaman tersebut masih dipertanyakan keberadaannya, silakan menghubungi saya.
    Terima kasih
    GBU🙂

  5. Yang saya tahu Leny dan Wartawan SM sama2 mengubah kalimat langsung menjadi tidak langsung..

    Dulu, waktu SD, saya dan teman-teman sekelas yang jumlahnya hampir 40 anak, mengubah satu kalimat langsung menjadi tidak langsung. Bukan cuma mirip, hampir semua sama persis. Sedangkan setahu saya, kutipan harus ditulis sama seperti apa yang disampaikan oleh narasumber. Semoga saya tidak salah.. Tetap semangat ya Leny..

  6. Iki ki seng diributke opo jane??
    Pada mau sok pinter soal jurnalistik atau mau mengoreksi Scientiarum? Saam inikan orang yang gak terlalu tau soal jurnalistik yang kadang juga sok tau soal jurnalistik, dan kalaupun maksud dari tulisan di blog ini menuduh reporter SA plagiat kan Saam juga gak punya banyak bukti, trus yang mau diributkan opo?? Jadinya kan gak mutu, seperti tulisan dan tuduhan-tuduhan di atas! hehehhe

    • Izin Copas dulu
      @Leny: tdk perlu minta maaf kpd saya, karena sy pikir anda tdk memiliki salah kepada saya. dalam tulisan saya, saya hanya menyampaikan “kemiripan”, dan tidak tertarik memberikan komentar lebih lanjut.

      Pesan saya, Leny tidak perlu takut kalau Leny merasa benar.
      * tanggapan SFM terhadap leny.

      SFM khn hnya menyampaikan kemiripan saja. Ya klw gitu gak ush komentar lebih lanjut donk. Heheee… Konsisten saja. Jikalau ada pertanyaan dtg aja ke SA atau tanya ke sdri leny. Beres khn.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s