CH (News Edition): Polemik Sistem Perkuliahan UKSW Berkepanjangan

Kebijakan Rektor Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, yang mewajibkan semua fakultas dan program studi menerapkan semester antara, selain semester gasal dan semester genap, menuai polemik berkepanjangan.

Pihak Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana meminta Rektor UKSW mencabut keputusan tersebut karena telah membuat kondisi kampus tidak kondusif.

Sebelumnya, sebagian mahasiswa UKSW, yaitu dari Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer, pada Agustus lalu menyatakan penolakan mereka terhadap sistem tersebut.

Sekitar 200 mahasiswa mengantarkan surat penolakan kepada rektor. Aksi itu kemudian ditanggapi dengan forum terbuka yang dipimpin oleh Pembantu Rektor III UKSW Yafet Rissy.

Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer (FTEK) UKSW Tyas Bani Pamerdi, Rabu (19/9), mengaku tidak menyangka apa yang dilakukannya berdampak begitu besar. Mahasiswa saat itu hanya ingin menyampaikan keluhan bahwa beban yang akan mereka tanggung semakin berat, baik dari materi perkuliahan maupun biaya kuliah yang harus dibayar.

Sejak aksi tersebut, berbagai ungkapan ketidaksetujuan mengemuka. Ketua Umum Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana Salatiga Judowibowo Poerwowidagdo mengungkapkan, pihak yayasan telah meminta Rektor UKSW mencabut kebijakan mengenai diwajibkannya semester antara untuk semua fakultas dan program studi mulai tahun akademik 2012/2013. Hal itu dilakukan setelah sebelumnya yayasan memberi imbauan, tetapi tidak juga ada perubahan.

Judowibowo menyebutkan, beberapa fakultas yang secara resmi menolak kebijakan itu di antaranya FTEK, Fakultas Sains dan Matematika, dan Fakultas Hukum. Kondisi itu menyebabkan gejolak di lingkungan kampus dan mengganggu aktivitas perkuliahan. Belum lagi, pengajar program Magister Ilmu Hukum UKSW, Marthen H Toelle, mengajukan permohonan uji materi ke Mahkamah Agung mengenai surat keputusan Rektor UKSW.

Marthen menilai, keputusan rektor tersebut bertentangan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Dalam peraturan tersebut tercantum bahwa tahun akademik terdiri atas dua semester, yaitu semester gasal dan semester genap. Di antara dua semester itu perguruan tinggi dapat menyelenggarakan semester antara untuk remediasi, pengayaan, atau percepatan.

Namun, baik Judowibowo maupun Marthen mengungkapkan penyelenggaraan semester antara di UKSW tidak sesuai dengan ketentuan yang ada dalam PP. Realisasinya, kewajiban mahasiswa, biaya yang harus dibayar, sampai dengan waktu pendidikan, sama dengan semester gasal maupun semester genap.

Karena itu, berdasarkan hasil rapat pembina harian, pengurus yayasan dan pengawas, disepakati menginstruksikan rektor UKSW untuk mencabut surat keputusan yang menimbulkan polemik tersebut.

Pihak yayasan memberi waktu selama satu bulan terhitung sejak surat itu dikirimkan pada tanggal 14 September 2012. Marthen menilai polemik tersebut harus segera diselesaikan.

“Karena itu, saya mengajukan uji materi agar jelas apakah kebijakan itu benar atau salah. Kami tidak ingin konflik ini berlarut-larut hingga membahayakan dosen dan mahasiswa,” kata Marthen.

Sistem semester antara sebenarnya telah diberlakukan di UKSW sejak tahun 2002. Namun, tidak semua fakultas diwajibkan menganut sistem itu. Dalam perjalanannya, pihak Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Negeri serta Koodinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) wilayah Jawa Tengah, pernah melarang penerapan sistem yang dikenal dengan sistem tri semester itu.

Pihak YPTKSW juga sudah pernah mengingatkan UKSW untuk tidak menerapkan sistem tersebut.

Marthen mengatakan, sekalipun kebijakan itu tidak dipaksakan diterapkan untuk semua fakultas, jika hasil uji materi menyatakan SK tersebut melanggar peraturan perundang-undangan, pihak universitas dapat terkena sanksi. Sementara itu, Rektor UKSW John Titaley menolak berkomentar mengenai polemik tersebut ketika dihubungi melalui pesan singkat.

Sumber: kompas.com (sfm).

2 thoughts on “CH (News Edition): Polemik Sistem Perkuliahan UKSW Berkepanjangan

  1. Apakah sudah ada uji materi yang mendalam mengenai program antara itu?jika sudah dilarang oleh Kopertis mengapa masih kekeuh dilanjutkan?jika menuai beban seyogyanya di kaji ulang…

  2. Saya secara pribadi dan juga sebagai Mahasiswa UKSW sangat menyayangkan dengan polemik yang terjadi di UKSW saat ini, mengingat hal ini menjadi sangat membingungkan kita ketika polemik tersebut tidak ditanggapi dengan secara POSITIF oleh setiap kita siapapu itu yang ada di UKSW, pada hal kita semua mengharapkan bahwa UKSW mampu menjadi institusi yang mampu melahirkan generasi yang handal, bermutu, serta siap bersaing namun terjebak juga dalam polemik yang ada. Kita tidak tahu mau dipake system yang mana pokoknya yang penting jalan, karena itu urusan yang diatas (Rektorat). Seharusnya yang diharapan kita bukan pada system yang walaupun ada manfaat dan resikonya, tetapi ini harus disikapi dengan baik dan positif, yang terpenting yaitu kita harus membawah UKSW yang siap untuk mampu bersaing dengan yang lain, bukan hanyut dalam polemik yang berkepanjangan…..

    Semoga polemik yang ada dapat segera selesai dengan solusi apapun itu, agar kita semua yang ada di UKSW dapat menjalankan tugas kita sebagaimana mestinya, sesuai dengan harapan kita bersama,….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s