CH (326): “Membingkai” Indonesia

Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk mengekspresikan makna keindonesiaan yang dirasakannya. Ismail Marzuki, seorang komposer kenamaan negeri ini, “membingkai” Indonesia dalam satu lagu berjudul, “Rayuan Pulau Kelapa”. Tiap-tiap liriknya mengandung pesan kuat akan keindonesiaan.

Lalu, jika kita diberikan kesempatan untuk menghadirkan Indonesia yang besar dan beragam ke dalam sebuah gambar, kira-kira apa yang akan anda sajikan?

Teman-teman mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) yang mengikuti kuliah Pendidikan Kewarganegaraan semester ini, di ruang F303, tiap hari Kamis sore, mengekspresikan keindonesiaan mereka. Dari sekian banyak karya yang masuk, berikut adalah 3 gambar terbaik dari yang terbaik. Mari kira simak pesan-pesan keindonesiaan yang ingin mereka sampaikan.

Gambar pertama di atas adalah karya Ike Herwidoarsi, mahasiswa Program Studi (Progdi) Akuntansi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Berikut pesan yang disampaikan Ike:

Gambar di atas maksudnya adalah walaupun mereka berasal dari berbagai pulau di Indonesia yang juga memiliki kebudayaan daerah masing-masing dan memiliki bahasa daerah yang beraneka ragam, tetapi mereka tetap menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari dan ketika mereka berbicara dengan orang Indonesia lain di luar pulaunya. Karena merupakan ciri dan pemersatu bangsa Indonesia.

Gambar kedua, merupakan hasil tangan Dimas Septian Cahyo, mahasiswa Progdi Bimbingan Konseling (BK) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Mari kita simak pesan Dimas.

Indonesia juara I Olimpiade, Juara II adalah Jepang, dan Juara III adalah Swiss. Masing-masing Negara membawa bendera Negara masing-masing. Indonesia membentangkan bendera Merah-Putih, agar banyak Negara tahu bahwa Sang Merah-Putih adalah bendera Negara Indonesia.

Gambar terakhir diciptakan oleh Muh. Fahmi Saefudin, mahasiswa Progdi BK FKIP. Berikut pesan Fahmi dalam gambarnya.

Sketsa di atas merupakan gambaran tentang keadaan bangsa Indonesia saat ini. Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa, hingga saat ini masih terjadi konflik, untuk memenuhi golongan tertentu. Pada dasarnya warga Negara mengetahui apa itu lambang Negara dan keragaman, tetapi ironisnya lambang Negara dan semboyan Negara hanya dijadikan simbol semata. Nilai dan makna yang tergantung dalam lambang dan semboyan Negara saat ini dilupakan.

Demikianlah Ike, Dimas, dan Fahmi, “membingkai” Indonesia. Terselip pesan-pesan tentang kemajemukan, harapan akan Indonesia, dan juga sebait kritik terhadap masih adanya konflik di negeri ber-“Bhineka Tunggal Ika” ini. (sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s