CH (328): Amien Rais dan “Matahari”

Kali pertama saya melihat Amien Rais (AR), bukanlah di media cetak ataupun elektronik, namun secara langsung saat ada sebuah diskusi di ruang Probowinoto, kampus Universitas Kristen Satya Wacana, tepatnya 15 tahun yang lalu, saat regim orde baru masih berkuasa.

Selebaran kedatangan AR dipasang disejumlah tempat di dalam kampus. Awalnya disebutkan bahwa kegiatan tersebut akan berlangsung di Balairung Utama (sekarang Balairung Universitas), pukul 19.00 WIB. Namun saat bersama seorang sahabat (Pengkuh Waskito), mendatangi BU jam itu, ada info dari seseorang bahwa diskusi tersebut dialihkan ruangnya ke ruang Probowinoto. Setelah bertanya kemana arah Probowinoto, sampailah kami di tempat yang dimaksud. Sudah cukup banyak orang yang hadir, walau tidak terlalu penuh, kami pun mengambil tempat di sayap kiri paling belakang.

Saya dapat merasakan suasana agak tegang, karena kasak-kusuk diantara para hadirin, walau dengan suara berbisik, bahwa sudah ada sejumlah “intel” dalam ruangan. Bisa dimaklumi, karena tokoh yang akan menjadi pembicara dikategorikan orang yang “suka” mengkritik pemerintahan Suharto.

Seingat saya, AR berbicara banyak tentang politik di Indonesia dan kegelisahannya dengan kehidupan demokrasi yang terjadi di dalam negeri. Satu hal yang sampai saat ini tergiang dalam benak saya adalah ketika menjawab satu pertanyaan hadirin yang bertanya kira-kira intinya, “Pak Amin, sampai kapan kira-kira keadaan ini (di bawah regim otoriter) akan terus kita rasakan?”. “…Tuhan itu adil, Ada saatnya Matahari terbit, dan ada saatnya Matahari terbenam. Entah kapan, tapi suatu hari nanti…”, demikian jawab AR.

Kenapa jawaban itu selalu tergiang dalam benak saya hingga kini, ya karena satu tahun kemudia, pecahlah gelombang kekecewaan masyarakat terhadap pemerintahan Orde Baru, lewat dukungan dan sokongan dari mahasiwa. Reformasi.

“Rumus” AR tentang “Matahari terbit dan tenggelam” adalah kias yang menarik untuk disimak dan dipahami oleh semua pihak, baik mereka yang memengang kendali kekuasaan di pemerintahan ataupun di lembaga-lembaga lainnya. Bahwa benar, tidak akan langgeng yang ada di dunia ini, karena ada saatnya keadaan akan berubah. Sekuat apapun kekuasaan itu dibangung dan digengam, dia tak akan mampu menahan laju “Matahari yang akan terbenam”. (sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s