CH (Special Note): “Cottage” Puisi Taufik Ismail

Seorang sahabat saya, Andri Setiawan, yang sedang merantau ke tanah Minang, menuturkan satu pengalamnya selama di sana. Kemarin, dengan 2 orang rekannya, berkesempatan mengunjungi “Cottage” Puisi seorang penyair besar negeri ini, Taufik Ismail. Tepatnya berlokasi di kaki Gunung Singgalang dan kaki Gunung Merapi, Sumatera Barat.

Hari ini adalah pengalaman yang tak ternilai, sebuah perjalanan tiga orang pemuda, bak Three Musketeers berjuang menghadapi segala rintangan……
Dari padang sampai lembah anai di guyur hujan terus melaju sampai padang panjang, dengan tujuan Rumah Puisi Taufik Ismail, hanya pengen numpang foto dan tanya kapan bisa masuk di rumah puisi seorang penyair yang aku kagumi dengan karya2nya, yang selalu aku baca karyanya saat mengikuti pekan seni mahasiswa daerah dulu,
…yah baru mau ambil foto di gerbangnya aja kita bertiga sudah diusir Satpam katanya, “Ini cotagge”. Saya jawab, “Loh…bukanya didepan situ tertera papan nama Rumah Puisi Taufik Ismail”. Tetap saja sang Satpam bilang ini cotagge….hehehe.
Aku jadi berpikir, “Beberapa minggu yang lalu saat aku datang kesini dengan mengendarai mobil bisa masuk dan melihat-lihat suasana di rumah puisi itu….tapi kenapa sekarang tidak???, apa karena aku hanya mengendarai motor aja jadi ndak bisa masuk ke Rumah Puisi seorang penyair yang aku kagumi dengan karya-karyanya?…. Atau mungkin Cotagge ini hanya Meminjam nama Besar Penyair itu sehingga orang yang nggak berduit tidak bisa masuk apa lagi numpang foto????”.
Ya saya akui memang raiku (bahasa Jawa: mukaku) memang rai wong ra gablek duit hahahaha….. RUMAH PUISI TAUFIK ISMAIL keliatanya papan nama itu tidak sesuai dengan apa yang ada …..hehehe.
Yah, dengan perasaan agak dongkol akhirnya kita bertiga melanjutkan perjalanan ke Bukit Tinggi, dengan pemikiran kalau hanya numpang foto di depan Jam Gadang aja, kita tidak akan di usir Satpam hehehehe ya…..meski hujan, kita terus melaju ke Bukit Tinggi dengan Jam Gadangnya dan alhasil kita bertiga bisa ambil foto sepuasnya didepan Jam Gadang tanpa rasa kuatir di usir Satpam lagi….
Catatan: atas seijin yang bersangkutan, cerita ini (dengan sedikit editing) dapat disajikan di blog saya. (sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s