CH (333): “Projects” Kewarganegaraan

Bagi para mahasiswa, menjadi warga negara yang baik bukan saja menjalankan perannya sebagai mahasiswa untuk menutut ilmu setinggi dan sedalam-dalamnya, namun sebenarnya lebih dari itu. Para mahasiswa juga memiliki kewajiban untuk mengimplementasikan apa yang telah mereka pelajari kedalam tindakan yang nyata.

Teman-teman mahasiswa yang tergabung di dalam mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan, kelas Kamis Sore, di Universitas Kristen Satya Wacana, “ditantang” untuk menerjemahkan apa yang telah mereka pelajari di dalam kelas, ke dalam project kelompok. Penugasan lapangan yang merupakan bentuk penganti tes tertulis tersebut mengambil 2 tema besar tentang, “Kemanusiaan” dan “Nasionalisme”. Berikut adalah rangkuman 3 projects kemanusiaan, dan 1 projet nasionalisme.

Kelompok Pancasila, menerjemahkan tugas mereka dengan berbagi bersama anak-anak di Panti Asuahan “Bakti Luhur”, Jl. Raden Fatah, Salatiga. Selain membawa bingkisan berupa pakaian pantas pakai dan paket makanan, 9 mahasiswa itu bernyanyi, mengambar, dan menemani anak-anak panti makan siang.

Mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Rantai, memutuskan menerjemahkan tugas kelompok dengan tema kemanusiaan, melalui pengalangan dana untuk dibelikan paket sembako, dan dibagikan kepada mereka yang kurang beruntung di sekitar kampus UKSW. Delapan mahasiswa tersebut, selain mengumpukan uang melalui iuran, juga mencari dana dengan ngamen disekitar kampus. Uang yang terkumpul, mereka belikan beras, teh, mie instan, dan minyak goreng. Ada 10 paket yang mampu mereka sediakan, dan keseluruhnya telah disalurkan langsung kepada mereka yang kurang beruntung, seperti para pemulung yang masuk kampus UKSW.

Delapan mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Garuda, membantu seorang bapak pemulung yang bertugas di Tempat Pembuangan Sampah di Kalimangkak, Salatiga. Bapak itu bernama Wardjito. Sebagai bentuk kepedulian mereka kepada Pak Wardjito, mereka bersama-sama iuran dan membelikan beras, gula, mie instan.

Berbeda dengan 3 kelompok sebelumnya, Kelompok Banteng mengambil tema Nasionalisme. Kedelapan mahasiswa tersebut, dengan dibantu Karang Taruna setempat, menerjemahkannya dengan membuat project bersih-bersih lingkungan sungai di Desa Payaman, Tungkir Tengah. Selain membersihkan sungai, teman-teman mahasiswa tersebut juga menyerahkan bantuan berupa poster “Jangan Kotori Aku” kepada Ketua RW, untuk ditempel di papan informasi warga.

(sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s