CH (337): Supardan, Bukan Politisi Profesional (Serial Supardan, Bag. 1)

Pengakuan Drs. Supardan, M.A., bahwa dia tidak memiliki syarat menjadi politikus profesional, mengejutkan aku secara pribadi. Pengakuan yang meluncur dalam Memoarnya, “Dari Akar Kembali Ke Akar” tersebut, seakan menenggelamkan jati diri Supardan, seorang aktifis yang telah malang-melintan di kancah organisasi negeri ini..

Halaman 281 – 282 dari buku tersebut menerangkan maksud Suaprdan dengan tidak memiliki syarat menjadi politikus professional, berikut saya kutipkan.

Dengan kegiatanku di masa bertumbuh yang banyak mengambil jalur dunia pergerakan social, maka untuk melanjutkannya ke dunia politik praktis mestinya tidak sulit. Yang sulit adalah bahwa aku tidak memenuhi syarat untuk menjadi seorang politkus profesional. Cacatku itu banyak sekali, beberapa diantaranya ialah karena aku: tidak tega untuk berkhianat kepada teman, tidak tega ingkar janji (esuk dele sore tempe, alias mencla-mencle alias berubah-ubah), tidak tega bermanis mulut meskipun sebenarnya tidak suka akan sesuatu hal, tidak tega “menjual teman untuk kepentingan diri sendiri”, tidak tega untuk menciptakan “kampanye hitam” (black campaign) atau menciptakan konflik untuk menghancurkan lawan politik, tidak tega untuk memakai adigum: tujuan menghalakan segala cara (end justifies the means), tidak mampu menyusun dalih kebohongan dengan teknik yang seolah-olah benar, tidak mampu membujuk pimpinan agar aku diberi perhatian, tidak mampu menyodor-yodorkan diri kepada mereka yang mempunyai kekuasaan, tidak memiliki keberanian untuk memeprtahankan kebohongan orang lain (meskipun kawan seiring dalam politik), sampai lawan percaya bahwa itu “benar”, atau harus mampu membuat kebohongan menjadi kebenaran, atau mudah memperpendek daya ingat (termasuk harus cepat melupakan sejarah: hari ini menangisi sahabat politik, sebentar kemudian, untuk mendongkrak citra politik diri sendiri,…

Riwayat Organisasi

Dalam perjalan hidupnya, Supardan aktif di berbagai organisasi. Sewaktu masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), di Jakarta, Supardan muda sudah berkenalan dengan kegiatan kepemudaan Young Men’s Christian Association (YMCA).

Saat bermahasiswa sempat menceburkan diri dalam Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), bahkan pernah duduk menjadi Ketua I Pengurus Pusat GMKI, pada tahun 1965-1967, hingga Sekretaris Jenderal GMKI, 1967-1969.

Selama di Salatiga, Supardan juga aktif dalam berbagai organisasi, seperti Front Pemuda Salatiga, Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa (PPMI), Badan Kerja Sama Pemuda Militer (BKSPM), Koordinasi Kerja Sama Organisasi dan Gereja Salatiga, Partai Kristen Indonesia, dan PWKI.

Selepas sarjana muda di PTPGKI, Supardan bekerja sebagai guru di Purwodadi. Di sini, Supardan membantu menghidupkan kembali Persatuan Pemuda Kristen Indonesia (PPKI). Dikemudian hari PPKI dan Majelis Pemuda Kristen Oikoumene bergabung dan melebur menjadi Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), tepatnya pada 4 November 1962. Ketua Umum Partisipasi Kristen Indonesia.

Pernah dijadikan calon anggota Dewan Perwakilan Daerah dari salah satu partai, dalam Pemilu tahun 1982, 1987, dan 1994. Namun sering “dizolimi”.

Di dunia kerja Supardan pernah menjabat sebagai Sekretaris Wilayah World Student Christian Federation (WSCF) Asia Fasisik, Ketua I Yayasan Bina Darma, Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Trisakti, Development Centre Dewan Gereja Indonesia, Pembantu Rektor Bidang Administrasi dan Keuangan Universitas Kristen Satya Wacana, dan Lembaga Alkitab Indonesia. (sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s