CH (Special Note): Sutarno: Solidaritas, Kepedulian dan Tanggung Jawab

Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa kepada ke hadirat Allah semesta langit (Nehemia 1:4).

Sebagai seorang Yahudi yang taat kepada Tuhan, hati Nehemia sangat tersentuh dan terusik ketika mendengar berita tentang keadaan bangsanya dan kota Yerusalem, yang menjadi lambang kebesaran umatnya itu, ada “dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela”. Mengetahui keadaan yang sedemikian itu, Nehemia menjadi sangat sedih, sehingga “menangis dan berkabung selama beberapa hari”. Sikap dan perbuatan Nehemia itu menunjukkan betapa besar rasa solidaritas, kepedulian dan juga tanggungjawabnya kepada umat Tuhan itu. Yang menarik ialah, ketika mengetahui bagaimana terpuruk dan tercelanya keadaan umat Tuhan itu, Nehemia bukannya menjadi gusar dan marah, tetapi bersedih dan berdoa. Dan sebagai bagian darinya, ia pun juga mengakui telah turut berbuat dosa bersama umat tersebut. Tidak hanya itu. Selanjutnya Nehemia dengan penuh kesungguhan berupaya memperbaiki dan membangun kehidupan lahiriah dan rohaniah umatnya itu.

Dalam kehidupan iman dan kegerejaan, mungkin kita sesekali merasa kecewa atas keadaan dan perilaku saudara-saudara seiman kita dan bahkan Gereja, yang kita anggap tidak sesuai dengan kehendak Kristus. Oleh kekecewaan tersebut, kita umumnya lalu cenderung melontarkan kata-kata negatif berupa keluhan, omelan dan cercaan, bahkan kemudian enggan menjalin persekutuan dengan Gereja dan para warganya. Kalaupun anggapan kita itu benar, dalam keadaan seperti itu hendaknya kita ingat bagaimana Nehemia menyikapi bangsa dan umatnya. Dengan jujur ia mengakui kekeliruan bangsa dan umatnya, menjadi sedih oleh kenyataan itu, sehingga menangis dan berkabung. Tetapi ia juga berdoa untuk pemulihan umatnya, dan berbuat nyata guna memperbaiki keadaannya. Demikian juga hendaknya dengan kita. Berdasarkan kesadaran bahwa kita juga merupakan bagian tak terpisahkan dari umat kita itu, kita seharusnya tidak hanya menyesal dan menggerutu, tetapi berupaya ikut memperbaikinya dengan penuh tanggung jawab.

Sebagai warga umat Kristus dan Gereja, kita menjadi bagian yang integral darinya. Oleh sebab itu selayaknyalah kita tidak hanya menjadi “penonton”, melainkan “pelaku aktif” yang turut bertanggung jawab atas semua kekurangan dan kekeliruannya, dan bertugas ikut memperbaikinya.

sumber: kristushidup.com. (sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s