CH (339): Konsekuensi Bersyahadat

Menggantikan Pdt. Em. Ellen Kandori yang berhalangan hadir karena sakit, Pdt. Daniel Nuhamara, naik mimbar dalam pelayanan firman pada hari Minggu lalu (25/11), di Gereja Kristen Indonesia Soka Salatiga, dengan membawa tema “Mengakui Kristus sebagai Raja”.

Menurut Pdt. Nuhamara, “Mengakui Kristus sebagai Raja” merupakan bentuk dari syahadat orang percaya dan sudah tentu memiliki konsekuensi yang harus ditanggung ketika syahadat itu diimani. Ketika orang Kristen mengakui bahwa Yesus adalah Raja, maka hati, jiwa, dan pikiran, haruslah memiliki komitmen yang sama akan hal itu.

Ada 2 hal yang disampaikan oleh Pdt. Nuhamara tentang alasan mengapa orang Kristen lari dari syahadat itu, pertama syahdat tersebut hanya diucapkan dibibir saja atau sekedar dinyanyikan saat melantukan puji-pujian di gereja ataupun dimana saja, dan belum merasuk ke dalam jiwa dan pikiran. Kedua karena takut. Takut yang dimaksud adalah kehilangan jabatan, takut kehilangan kekuasaan, dan takut hidup sengsara. Sehingga bagi mereka, lebih baik diam melihat berbagai permasalahan, ketimbang berdiri teguh memegang syahadat “Kristus adalah Raja”. (sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s