CH (News): Matinya Sportivitas di POM 2013

554923_584416844916108_923008951_n

Berawal dari sebuah Pekan Olahraga Mahasiswa (POM) UKSW 2013 yang merupakan kegiatan tahunan Senat Mahasiswa Universitas (SMU) yang mempertandingkan 6 cabang olahraga yaitu, sepakbola, basket, futsal, bulutangkis, voli, dan tenis meja, yang diikuti oleh 14 fakultas di UKSW juga perguruan tinggi yang ada di salatiga.  Terjadilah sebuah permasalahan yang berbuntut panjang dan mengakibatkan Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer (FTEK) UKSW mengundurkan diri dari semua cabang olahraga yang masih diikuti di POM.

Awal permasalahan timbul dari pertandingan antara FTI vs FTEK di cabang sepakbola pada selasa, 16 April 2013 pukul 08.00. Semula, jadwal pertandingan FTI vs FTEK diadakan pada hari rabu, 17 April 2013 pukul 09.30, hanya saja jadwal tersebut bertabrakan dengan pertandingan antara FTEK vs FH untuk cabang Futsal. Akhirnya, FTEK meminta untuk mengganti jadwal karena pemain-pemain futsal kurang lebih sama dengan yang akan bermain sepakbola. Panitia memutuskan untuk mengadakan pertemuan kembali pada pembukaan POM yaitu pada hari senin, 15 april 2013 dan diputuskan FTI vs FTEK untuk divisi sepakbola akan bermain pada hari selasa 16 April 2013 pukul 08.00. Tentunya keputusan ini sudah mendapat persetujuan dari kedua belah pihak. Akan tetapi, pada selasa 16 April 2013, hingga pukul 08.15 tim dari FTI belum juga datang, padahal sudah berulang kali dipanggil panitia untuk masuk ke lapangan. Dan akhirnya, kurang lebih pukul 08.30, wasit masuk kedalam lapangan dan meniup peluit untuk kick off, dan sampai pada saat itu, tim FTI masih belum berada didalam lapangan pertandingan. Hal ini mengakibatkan tim FTI di WO oleh wasit karena hingga 08.30 tidak berada didalam lapangan. Begitu pemain FTEK bubar, tiba-tiba tim FTI datang dan tidak terima atas keputusan oleh wasit. Mulailah dari sini, suasana memanas, terjadi adu argumen diantara FTI dan FTEK. FTI mulai beralasan bahwa mereka sedang berada diruang ganti sehingga terlambat sampai dilapangan dan meminta agar melakukan pertandingan kembali. Selain itu, tim FTI mengungkit-ngungkit masalah pergantian jam pertandingan yang semula hari rabu jam 9.30 dan meminta FTEK untuk ikut memikirkan bahwa FTI sudah melakukan toleransi untuk mengganti jadwal. FTEK sendiri bersikeras tidak akan bermain lagi, karena wasit sudah meniup peluit,tanda pertandingan sudah dimulai. Selain itu, teman-teman FTEK menekankan masalah pergantian jadwal adalah keputusan panitia dan FTEK juga hanya mengikuti, jadi jika mempermasalahkan jadwal akan lebih bik mempermasalahkannya kepada panitia.

Akhirnya diminta tiap tim memberikan 1 perwakilan untuk mendiskusikan hal ini dengan wasit dan juga panitia. Didalam diskusi tersebut wasit menyatakan bahwa kalau wasit hanya mengikuti peraturan yang sudah diberikan oleh panitia dan jika melihat dari peraturan yang sudah diberikan maka jelaslah FTI kena WO. Selain itu, wasit juga mengatakan bahwa wasit hanya menjalankan tugasnya, kalaupun akan diadakan pertandingan ulang, wasit tidak berkeberatan tapi, harus disetujui oleh kedua belah pihak. FTEK sendiri bersikeras untuk tidak diadakan lagi pertandingan ulang, karena sangat jelas bahwa FTI telah telat 30 menit dan wasit sudah meniup peluit kick off. Setelah itu, berakhir pada keputusan untuk tetap wo.

Setelah bubar, secara personal FTEK bertanya kepada panitia divisi sepakbola yang sepertinya kebingungan dengan kejadian ini yaitu apakah FTI sudah mengkonfirmasi keterlambatan mereka? Dan panitianya menjawab tidak ada konfirmasi sedikitpun dari tim FTI padahal ada seorang panitia dari divisi sepakbola yang juga ikut bermain tapi, tidak ada konfirmasi sehingga diputuskan untuk wo. Dan jika, melihat peraturan yang ada maka memang sudah seharusnya FTI di wo.  Begitulah statement terakhir dari panitia divisi sepakbola. Lalu, terdengar bahwa teman-teman FTI melaporkan hal ini kepada dosennya yang merupakan koordinator wasit salatiga, dan mulai mempermasalahkan mengenai wasit.

Beberapa jam kemudian dengan tetap pada kemenangan FTEK. Pukul 14.00, pihak FTEK diminta untuk ke LKU membahas masalah sepakbola, entah kenapa pada pertemuan tersebut panitia meralat semua keputusannya, dan menyatakan ini kesalahan panitia serta diadakannya pertandingan ulang. Tentunya FTEK sangat kaget, kenapa bisa tiba-tiba berubah seperti ini. Selain itu, Ketua SMF-FTI didepan LKU justru berteriak-teriak, “POKOKNYA HARUS DIADAKAN PERTANDINGAN ULANG”. Akhirnya FTEK yang masih belum berterima mengadakan open forum dan mengundang panitia untuk hadir.  Ketua panitia sudah menyatakan kesediaannya untuk hadir. Pukul 19.00, mahasiswa FTEK sudah berkumpul di c107 dn menunggu kedatangan dari pihak panitia tapi, sampai beberapa menit panitia tidak datang juga, dan lama kemudian masuk sebuah sms di hp adit.T bahwa panitia tidak akan datang karena merasa tidak ada yang perlu lagi dikonfirmasi. Alhasil saudara reinhard dan beberapa orang pergi ke LKU dan menawarkan pilihan, panitia yang akan datang ke c107 atau mahasiswa FTEK saja yang datang ke LKU, karena membutuhkan klarifikasi. Dan pada akhirnya karena sudah menunggu terlalu lama dan belum adanya itikad baik dari panitia, mahasiswa FTEK beramai-ramai pergi ke LKU untuk meminta penjelasan.

Panitia meminta hanya 2 orang saja yang mewakili untuk berbicara dan ditunjuk hendika dan billy untuk mewakili. Beberapa pertanyaan diajukan FTEK, seperti, apakah untuk maksimal waktu keterlambatan yaitu 15 menit, pihak FTI sudah datang di lapangan ? dan dengan tegas panitia mengatakan tidak. Akhirnya panitia, memutuskan akan mengadakan pertemuan antara FTI, FTEK, Panitia dan wasit pada rabu, 17 April 2013 pukul 15.00 di ruang menwa.

Dihari rabu, pertemuan antara FTI, FTEK, Panitia dan wasit membahas mengenai win-win solution dari permasalahan ini. Dan kembali, terjadi ralat yaitu wasit menyatakan bahwa wasit memang belum mendapatkan license dari pihak PSSI Salatiga dan memulai pertandingan tanpa ijin panitia. Padahal jelas sekali panitia mengatakan tidak ada konfirmasi dari pihak FTI sehingga diputuskan wo. FTEK yang diwakili, billy, reinhard, hendika dan ruth memberikan pilihan-pilihan yang dirasa paling adil yaitu ,

  1. Kedua tim dinyatakan gugur
  2. Jika memang masih memaksakan untuk bertanding kembali dengan kondisi tersebut tentu FTEK memilih untuk mundur saja.

Dari pilihan-pilihan yang diberikan FTEK, pihak FTI tidak bersepakat dan memberikan pilihan kepada FTEK yaitu,

  1. Tetap diadakan pertandingan kembali dengan kedudukan 2-0 untuk kemenangan FTEK
  2. FTI hanya akan bermain dengan 10 pemain

Tentu saja FTEK merasa dilecehkan dengan pilihan-pilihan yang diberikan oleh pihak FTI, karena seakan-akan mengatakan FTEK pasti kalah. FTI berdalih bahwa tim sudah berlatih lama, dan sangat kasihan jika tidak bertanding. FTEK yang diwakili billy mengatakan bahwa FTEK pun sudah berlatih untuk POM ini, hanya saja karena ini berbicara soal mencari win-win solution jadinya kalau bermain kembali, FTEK merasa tidak sepakat sehingga jika mau adil kedua tim didiskualifikasi saja, jadi tidak ada yang menang dan yang kalah. Tapi, teman-teman FTI tetap berkeras untuk bermain, bahkan ketika FTEK mengatakan bahwa FTEK saja yang mundur, teman-teman FTI pun tidak bersepakat dan ingin tetap bermain. Melihat reaksi ini ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya FTI ingin bermain dengan FTEK walaupun harus bermain 10 pemain dan dengan posisi 2-0 untuk FTEK .

Dengan semua hal yang sudah tidak sportif ini, maka tim FTEK menyatakan mundur dari semua cabang yang masih diikutinya karena tidak melihat lagi adanya sportivitas. Hal ini bukan hanya karena tim sepakbola FTEK diminta untuk bermain kembali tapi, karena di divisi lain yaitu di divisi badminton, FTEK yang ingin melakukan pergantian pemain dikarenakan sekar yang harus bertanding sedang dalam kondisi sakit, tapi tidak diijinkan panitia, alasannya waktu untuk konfirmasi pergantian pemain maksimal 45 menit sebelum pertandingan sedangkan FTEK datang sudah lebih dari 45 menit sebelumnya. Lobi pun sudah dilakukan mengingat hal ini begitu mendadak yaitu kondisi sakit yang tidak diprediksi dan bukan karena kelalaian. Tapi panitia tetap memutuskan jika sekar tidak datang maka tim FTEK akan di wo. Akhirnya sekar memaksakan diri datang untuk bertanding. FTEK pun melobi untuk urutan mainnya yaitu ganda campuran, single putra baru single putri mengingat kondisi sekar yang sedang sakit dan harus bermain dua kali, akan tetapi panitia tetap tidak ingin tahu dan mengatakan bahwa sudah menjadi aturannya seperti itu. Dan akhirnya ketika sekar bertanding, sangat terlihat jelas bahwa sekar tidak dalam kondisi yang baik terlihat dari pukulan-pukulan yang sering tidak sampai net juga terkadang terlihat oleng. Akhirnya, sekar kami minta berhenti saja dari pertandingan. Dan setelahnya, sekar terlihat sangat pusing dan sudah tidak kuat lagi, dan berujung pada tidak sadarkan dirinya sekar dan dibawa ke poliklinik. Di poliklinik pun sekar sempat dipakaikan oksigen untuk membantu pernapasan. Panitia sendiri hanya dapat menyatakan permintaan maaf dari kejadian ini dan bertahan bahwa mereka hanya menjalankan apa yang sudah menjadi aturan.

Melihat dari 2 kejadian ini membuat mahasiswa FTEK sangat merasa tidak adil, bagaimana tidak, disisi lain FTEK benar-benar mengikuti peraturan bahkan sampai berakibat buruk pada kondisi sekar, tapi disisi lain peraturan yang sudah sangat jelas memenangkan FTEK tiba-tiba saja bisa berubah dalam hitungan jam saja, lalu bagaimana dengan yang terjadi di divisi badminton ?

FTEK pun merasa POM sudah tidak lagi sehat, dan menyatakan pengunduran diri di semua cabang olahraga yang masih diikuti di POM.

sumber: klik disini. (sfm).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s