CH (370): Hasil Rembug “Pelayanan Kesehatan di RSUD Salatiga”

foto_rb“Rembug Kota” yang digagas oleh Grup Salatiga di jejaring media sosial Facebook, telah berlangsung dengan baik pada hari Selasa, 26 November 2013, di rumah Mas Haris, salah satu member-nya, yang kebetulan juga menjabat sebagai Wakil Walikota Salatiga. Rembug yang mengangkat topik seputar, “Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Daerah Kota Salatiga”, dihadiri sejumlah pihak terkait. 

Acara yang diikuti lebih dari 28 orang tersebut, menghadirkan jajaran manajemen RSUD Kota Salatiga, yakni Direktur RSUD Kota Salatiga dr. Agus Sunaryo, Sp. PD, didampingi oleh Wakil Pelayanan dr. Eritrina, dan  Bapak Tristiono Kepala Bagian Keperawatan.  Turut hadir Wakil Ketua DPRD Kota Salatiga Fathur Rahman dan Sekretaris Komisi I Septa Maya Hidayati. Acara yang dimulai pukul 19.30 WIB, berjalan dengan suasana hangat dan kekeluargaan.

Sejumlah Isu

Isu-isu seputar pelayanan kesehatan di RSUD mendapat porsi besar, selain itu ada juga beberapa hal disinggung diluar masalah pelayanan kesehatan, namun mendapat perhatian besar dari anggota Grup Salatiga dan para peserta Rembug Kota. Berikut isu-isu tersebut.

Pertama, masalah pelayanan kesehatan.

(a) Dokter dan Perawat.

  • Masalah Poliklinik, masukan klinik eksekutif. Saat ini klinik tersebut telah ramai jika pagi, sehingga kadang-kadang menghambat dokter yang akan melakukan visitasi ke ruang-ruang.
  • Akan ditinjau klinik wijayakusuma akan buka sore, sehingga pasien yang ingin agar dokter melayani sore dapat terlayani.
  • Pihak RSUD memang telah juga mendapat keluhan mengenai mahasiswa praktek, sudah ada penekanan dari Pak Tri, bahwa untuk tindakan medik sekecil apapun, harus dengan pendampingan perawat senior.
  • Menjawab pertanyaan mengenai keberadaan dokter saat akhir pekan, dr. Eri menyampaikan bahwa saat akhir pekan dokter tetap ada, baik di IGD maupun untuk rawat inap.

(b) Ruang

  • Masih kurang jumlah tempat tidur dibanding dengan jumlah penduduk Kota Salatiga sebanyak 170.000. Penduduk Salatiga yang menggunakan RSUD masih sebanyak 30-40%, sisanya berasal dari luar Salatiga, terutama pengguna Jamkesnas.Pengguna Jmskesda dari Kabupaten Semarang bisa dilayani di RSUD Salatiga.
  • Seorang peserta rembug mengalami kejadian yang kurang mengenakan saat pemilihan ruang. Dia merasa RSUD mengarahkan pemilihan ruang selalu diarahkan ke Paviliun, padahal diketahui masih ada kamar-kamar diluar paviliun. Pak Tri melihat kemungkinan dilapangan terjadi perubahan ruang dikarenakan keluar-masuk pasien yang tidak menentu jamnya. Namun pihak RSUD akan semakin meningkatkan supervisi sehingga kejadian-kejadian ketidakadaan ruang, tidak terjadi lagi.

(c) Pelayanan Rohani

  • Direktur RSUD akan mencoba kembali menghubungi pemuka-pemuka agama yang sebelumnya telah rajin datang ke RSUD,. Pihak RSUD akan membantu para rohaniawan dengan bekal data-data pasien yang beragama, sehingga memudahkan para rohaniawan menemui para pasien.

(d) Survey.

  • Menanggapi sejumlah penanya yang mengatakan bahwa RSUD Boyolali lebih baik pelayanannya ketimbang RSUD Kota Salatiga, dr. Agus berjanji melakukan survey, dimana staf RSUD Kota Salatiga akan pura-pura menjadi pasien di RSUD Boyolali, kemudian mencatat hal-hal yang baik yang ditemui, sehingga dapat digunakan di RSUD Salatiga.

(e) Layanan tanpa kelas.

  • Menurut Direktur RSUD, sudah ada wacana menuju kesana, namun menunggu kebijakan Nasional dan Daerah.

[f] Khitan.

  • Salah satu penanya yang kebetulan bergiat di PAWARSA, mengungkapkan kekecewaannya karena mahalnya khitan yang dilakukan oleh RSUD Kota Salatiga, sehingga lebih memilih meminta bantuan rumah sakit lain.
  • Menurut dr. Agus, mahalnya khitan, karena mengikuti aturan Perda, namun saat ini demi kepentingan masyarakat, pihak RSUD akan mensiasati agar harga dapat tidak mahal, dan tentu tidak melanggar Perda. Sebagai contoh, beberapa waktu yang lalu RSUD memberikan layanan pap smear secara gratis kepada 200 orang ibu.

(g) Perawatan Jiwa.

  • Sehubungan dengan adanya penanya mengenai pelayanan jiwa, sehunbungan dengan kemungkinan pasien akan bertambah jelang Pemilu 2014, Direktur RSUD menyampaikan bahwa telah mengutus Tri dan Pamuji untuk melihat pelayanan perawatan jiwa di RS Banyumas. Pelayanan khusus diberikan oleh RS Banyumas untuk pasien jiwa. Pak Tri melihat kemungkinan RSUD Salatiga membuka layanan jiwa yang lebih lagi, selama ini penangannya masih rawat jalan.
  • Pelayanan Hipnoterapi masih terbatas, dan bagi pasien yang tidak butuh obat-obatan medis. Sudah cukup banyak pengguna Hipnoterapi, namun ahlinya masih terbatas, hanya satu.

(h) Obat.

  • Kenapa ada beberapa obat yang tidak tersedia untuk peserta Jamkesda. Menurut dr. Eri, ada sejumlah obat yang diperlukan, namun diluar formularium, dan itu pasien perlu membeli diluar.

Kedua, pelayanan nonkesehatan.

(a) Parkir.

Sejumlah penanya menyampaikan keluhan mengenai pelayanan Parkir RSUD. Keluhan seputar terlalu komersilnya parkir, tidak ditata, tidak adanya free parkir bagi pengantar pasien. Pihak RSUD berjanji akan mengevaluasi kembali kerja sama parkir.

(b) Apel Pagi.

Ada keluhan dari warga mengenai Apel Pagi Karyawan yang tidak efesien. Aturan dari pemda, tentang harus adanya apel, maka RSUD hanya mengikuti saja. Namun Direktur RSUD menyatakan bahwa Apel-apel selanjutnya akan disipersingkat, cukup Kultum, lalu karyawan RSUD dapat beraktifitas. Mas Haris menyetujui ide tersebut.

Tanggapan Dewan dan  Wawali

Terkait dengan Perda, M. Faturahman menyampaikan bahwa pembuatan perda merupakan usulan dari pihak legislatif maupun eksekutif, sehingga disepakati mengenai Prolegda. Lebih lanjut, Faturahman mengatakan bahwa Perda yang terkait dengan tarif, baik tarif RSUD, Parkir, dan PDAM, tidak pernah diusulkan oleh dewan. Menanggapi masalah khitan, Wakil Ketua DPRD tersebut menyampaikan perlunya pengecualiaan untuk atifitas sosial, perlu disiasati agar harga dapat terjangkau dan tidak memberatkan. Terakhir, sehubungan dengan parkir, parkir RSUD termasuk parkir khusus.

Ada 3 hal pokok yang disampaikan oleh Wawali Mas Haris. Pertama, sehubungan dengan regulasi.  Jika memang ada perlu ada evaluasi sehubungan dengan regulasi, Mas Haris membuka kemungkinan perubahan-perubahan. Sehubungan dengan permasalahan pendataan untuk program Jamkesnan dan Jamkesda yang kurang akurat, Mas Haris menyampaikan bahwa bagi warga masyarakat yang memang tidak mampu, namun tidak terdata, maka Mas Haris memberikan pemahaman bahwa pihak RSUD tidak mungkin menolak pasien tersebut. Kedua, mengenai policy akan ditindaklanjuti. Masalah parkir RSUD, Mas Haris melihat pemasukan bagi parkir tidak terlalu berdampak banyak bagi PAD, namun lebih ke pengelola parkir. Ketiga, pelayanan. Selain fokus kepelayanan pasien, Mas Haris menyampaikan kepada pihak manjemen RSUD, agar juga memberikan pelayanan yang prima bagi keluarga pasien yang sehat. Hal itu penting, karena mereka-mereka yang sehat mampu memberikan penilaian bagi pelayanan kesehatan di RSUD.

Rumusan Rembug Kota #1

Melihat pemaparan permasalahan yang terjadi dalam Rembug Kota. Diketahui ada sejumlah pekerjaan rumah yang perlu dikerjakan secara serius oleh Pemerintah Kota (termasuk RSUD Kota Salatiga), pihak Legislatif, dan masyarakat.

  • Pemerintah Kota:

Secara terus-menerus membantu RSUD Kota Salatiga menjadi rumah sakit yang lebih baik, terutama dalam pemenuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Bersama pihak legislatif, meninjau kembali sejumlah aturan yang berhubungan dengan RSUD, terkait pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin.

  • Legislatif:

Bekerja sama dengan Pemkot untuk melakukan peninjauan kembali sehubungan dengan Perda yang berhubungan dengan RSUD, terkait tarif kesehatan dan parkir. Komisi terkait, lebih meningkatkan pengawasan terhadap RSUD Kota Salatiga, terutama pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin.

  • Masyarakat (terkhusus Grup Salatiga di Facebook):

Secara aktif, membantu pemerintah kota menjaga komitmen untuk memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik lagi bagi masyarakat. Turut serta membantu memberikan info-info positif seputar pelayanan kesehatan di RSUD Kota Salatiga, sehingga stigma negatif yang telah ditinggalkan, dapat dihilangkan.

Catatan Akhir

Rembug Kota #1 telah berjalan dengan baik. Sambutan hangat terlihat dari kesediaan Mas Haris, Wakil Walikota Salatiga, memfasilitasi pertemuan, kehadiran jajaran menajemen RSUD Kota Salatiga, kehadiran Anggota Dewan, serta tak kalah penting kehadiran warga Salatiga, dan tentunya anggota Grup Salatiga. Komitmen-komitmen para pihak (Pemkot, RSUD, DPRD, dan Warga) sangat dibutuhkan untuk membangun pelayanan kesehatan yang lebih baik lagi di RSUD Kota Salatiga.

Catatan: sumber dokumen Grup Salatiga. (sfm).

Berita terkait.
Wawali Kumpul Bareng Facebooker Salatiga
CH (369): Rencana Rembug Kota Salatiga
Pengguna Facebook Urun Rembuk Kemajuan Salatiga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s